Al-Ankabut
Ayat 11-20
وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ
11. Dan sungguh Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan mengetahui pula orang-orang yang munafik.
Aspek paling sulit untuk diketahui dari jiwa rendah (nafs) adalah kemunafikan. Sebagian besar tindakan dijustifikasi dengan cara kemunafikan. Seseorang bisa saja mengatakan bahwa ia bekerja di jalan Allah (fi sabilillah), tetapi sebenarnya ia ingin memperoleh ketenaran, atau ingin menjadi imam sebuah komunitas, atau juga menjadi pemimpin suatu negara. Jika tindakan-tindakannya dilakukan demi Allah semata, tentunya segala penderitaan dari orang-orang malah akan mendekatkannya pada sumber kebenaran, menukik ke relung dirinya yang paling dalam, dan membuatnya bergantung pada Tuhan Yang Mahabenar. Banyak manusia tidak menyadari bahwa mereka tak lain hanyalah refleksi dari Tuhan Yang Mahabenar. Inilah yang diyakini kaum mukmin.
Karena refleksi itu mungkin tidak bisa dilihat dengan jelas, orang-orang yang lemah keimanannya dan tidak mampu mengambil hikmah dan pertumbuhan spiritual dari berbagai peristiwa yang ada mungkin mengartikan kesengsaraan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia sebagai tanda bahwa Allah tengah menghukum mereka, bahwa Allah tidak memberi mereka ganjaran lantaran berada di jalan keimanan. Orang-orang berhati lemah mencari-cari ayat-ayat untuk melemahkan diri mereka sendiri lebih jauh. Manusia yang bisa membedakan kebaikan dari keburukan akan mengabaikan begitu saja kejadian-kejadian semacam itu. Imposisi, atau kejadian alamiah, inilah yang memperkuat iman orang-orang yang berhati tegar dan beriman kuat, serta melemahkan orang-orang yang berhati lemah. Inilah cara alami untuk menyeleksi orang-orang yang tidak memiliki kebijaksanaan.
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُم بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُم مِّن شَيْءٍ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
12. Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang beriman, "Ikutilah jalan agama kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu," dan mereka tidak sedikit pun sanggup memikul dosa-dosa mereka sendiri. Sungguh, mereka adalah pembohong.
وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَّعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
13. Dan sungguh mereka akan memikul beban (dosa) mereka sendiri dan beban-beban lainnya. Sungguh mereka akan ditanya di hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.
Sewaktu iman mereka lemah dan orang lain mengganggu mereka, orang-orang terdahulu ingin melepaskan keimanan mereka kepada Nabi Muhammad saw. Mereka menyatakan bahwa Allah mengirimkan risalah kepada mereka dalam bentuk kesengsaraan untuk menunjukkan bahwa mereka harus menempuh jalan dengan hambatan paling sedikit. Akan tetapi, jalan menyenangkan sajalah yang tampaknya ingin mereka tempuh, sehingga akhirnya malah menjadi lebih susah. Kesengsaraan adalah ujian alam atas diri manusia. Orang-orang yang berpaling dari jalan yang benar tidak akan mampu membedakan kebaikan dari keburukan dan tidak punya keimanan. Mereka hanya membaca makna-makna yang paling tampak dalam ayat-ayat tanpa memperhatikan ke arah mana mereka dibimbing.
Apa yang terjadi dalam kurun awal Islam selalu berulang sepanjang zaman. Manusia sajalah yang mengartikan kesengsaraan sebagai kerugian. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan Tuhan Yang Mahabenar. Sebuah ayat diwahyukan oleh Allah agar seorang mukmin mengetahui bahwa orang lain itu tersesat. Manusia membaca ayat-ayat yang diinginkannya sesuai dengan kekuatan iman dan ketulusan niatnya. Allah berfirman, "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." Manusia harus berusaha memahaminya. Hukumnya sudah tertulis di sana. Terserah kepadanya untuk menyelami kedalaman tentang bagaimana hukum-hukum itu berlaku dalam segala zaman dan situasi, di mana pun dan bagi siapa pun. Rahmat Allah bersifat seketika. Tingkatan dari bisa dilihat dan dirasakannya rahmat berbanding lurus dengan tingkatan ketulusan iman seseorang.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
14. Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Maka ia pun tinggal di tengah-tengah mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun lamanya. Lalu, mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang lalim.
فَأَنجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِّلْعَالَمِينَ
15. Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu, dan Kami jadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia.
Nabi Muhammad saw. bersabda, "Teladanku dan teladan orang-orang terpilih dari keluargaku bagaikan bahtera Nuh. Barangsiapa naik ke dalamnya, maka ia akan selamat, dan barangsiapa tidak menaikinya, maka ia akan tenggelam."
Jika manusia mengikuti perilaku Nabi Muhammad saw. dan keluarganya, sambil membawa paspor yang dikeluarkan tempat bertolaknya, maka ia akan mudah bergerak dari satu bandara ke bandara lain. Ia akan melewati bandara kefanaan menuju bandara keabadian. Jika tidak, ia akan celaka atau, paling banter, kebingungan. Inilah kondisi sebagian besar manusia, entah muslim maupun non-muslim. Mereka tidak berpegang teguh pada tali Allah. Alquran menyatakan hal ini dengan tegas, "Bagi mereka di antaramu yang ingin mengikuti Allah dan mengenal-Nya, hendaklah mereka mengikuti Rasul, apa yang dipegang teguh dan direnungkannya. Hendaklah mereka juga mengikuti jejak orang-orang yang datang sesudahnya." Sebuah hadis menyatakan, "Ulama adalah pewaris para nabi." Apa lagi yang diwariskan seorang nabi kalau bukan pengetahuannya dan penerapannya dalam kehidupan seseorang?
Dalam kehidupan, segala sesuatu yang kita lihat pun berpijak pada dualitas, seperti hidup dan mati, keterbimbingan dan ketersesatan, menuntun dan dituntun. Manusia mengalami berbagai hal yang saling bertentangan secara bersamaan. Ia mencintai dan sekaligus membenci. Jika seseorang mencintai kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan kemurahan hati, maka ia juga akan membenci ketidakadilan, tirani, dan kekejaman.
Dengan memahami dan secara aktual mengalami konsep ini, manusia bisa menuntun segenap tindakannya menuju hal-hal bertentangan yang lebih tinggi, sehingga semuanya itu memancar dari hal-hal bertentangan yang lebih dekat dengan berbagai sifat Tuhan Yang Mahabenar. Ia menyadari bahwa ia telah menempuh jarak sangat jauh dari berbagai kecenderungan lebih rendah menuju kecenderunggan lebih tinggi. Ia telah mencampakkan rasa takut dan tidak aman, dan mulai mendekati sikap positif dan merrasa aman karena menyadari bahwa ia telah mengetahui dan mampu meningkatkan kualitas kehidupan di sekitarnya.
وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْخَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
16. Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, "Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya." Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّالَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِتُرْجَعُونَ
17. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu. Maka, mintalah rezeki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya sajalah kamu akan dikembalikan.
وَإِن تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِّن قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
18. Dan jika kamu (orang-orang kafir) mendnstakan, maka umat-umat sebelummu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.
Ikutilah orang-orang yang memiliki ulu al-amr, orang-orang yang memiliki kekuasaan dengan izin, memegang perintah di tangan mereka dan dapat menafsirkannya. Tatanan Allah adalah jalan Allah, yakni pengakuan atas kebenaran dan realitas yang muncul dengan tunduk kepada satu-satunya Tuhan Yang Mahabenar. Tatanan lahiriah dan kekuasaan melahirkan tatanan fisik. Tatanan Allah ada dalam tujuan ciptaan-Nya, yakni bahwa, sebagai makhluk-Nya yang paling mulia, manusia harus mengetahui kehendak-Nya yang termanifestasi dalam hukum-hukum Allah yang mengatur kehidupan.
Dalam kehidupannya, manusia terbentur dengan tujuan untuk mengetahui hukum-hukum yang mengatur tindakan yang benar dan yang salah. Kesengsaraan dan gejolak hanyalah sarana alami bagi manusia untuk mengetahui batas-batas yang tak boleh dilampauinya, agar ia mengetahui pada titik mana ia mulai menyakiti dirinya sendiri. Ulu al-amr adalah orang-orang yang mengetahui tatanan segala masalah, yang memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan bawaan yang mendalam bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Mahabenar, dan Tuhan Yang Mahabenar itu mengejawantah dalam diri setiap manusia dan bentuk. Menyerap pengetahuan mereka membuat seseorang berhasil dan terhindar dari perbuatan menyakiti diri sendiri.
Manusia tidak mampu mengendalikan apa yang mungkin diperolehnya. Mungkin saja bahwa seseorang harus melunasi utang atau pinjaman yang terus menumpuk dari orang-orang sebelum dirinya. Jika seseorang tidak mengolah tanahnya dengan baik, maka anak-anaknya akan mendapatkan kegagalan panen yang tak bisa dibenahi dalam waktu singkat. Jika mereka memiliki pengetahuan, maka mereka akan menyadari situasi sulit mereka agar bisa dapat menabung dan terhindar dari perasaan kecewa.
Ulu al-amr seringkali disalahpahami. Kaum tiran di sepanjang sejarah Islam, dengan bertindak secara egois dan despotik, hanya menafsirkannya sebagai "orang-orang yang berkuasa." Sudah umum diketahui bahwa orang-orang yang berkuasa memang tidak pantas menerimanya. Mereka tidak mewakili sifat paling mulia dalam diri manusia.
Menurut para pengikut sejati cahaya Muhammad, sebagaimana banyak dicontohkan oleh Ahlul Bait (keluarga Muhammad) dan juga Imam Ja'far al-Shadiq, ulu al-amradalah orang-orang yang layak memimpin kita menuju pengetahuan tentang Allah. Mereka sudah mampu menguasai, pertama dan terutama, segenap kecenderungan rendah mereka. Mereka juga memiliki pengetahuan yang dapat membimbing orang lain mencapai rahmat abadi dalam kehidupan ini dengan melakukan perilaku yang baik serta berusaha dan hidup dalam perilaku yang sesuai dengan perilaku manusia, makhluk paling mulia.
Manusia yang seringkali menyimpang dari jalan yang benar menggunakan taqiyyah (menyembunyikan agama) untuk menghindarkan diri mereka dari jihad (usaha keras di jalan kebenaran) atau dari mengerahkan tenaga dan berjuang keras sebagai bagian dari kehendak Tuhan Yang Mahabenar. Segala sesuatu berkembang menuju tingkat lebih tinggi. Manusia juga harus mencerminkan hal itu dengan berusaha sebaik mungkin untuk mengubah keadaan yang salah dan menghilangkan kejahilan atau kebodohan.
Kehidupan berpijak pada gerakan yang dinamis. Kehidupan menggemakan makna shamadiyyah, keabadian. Keabadian mengejawantah dari dalam diri kita. Seringkali manusia takut pada gerakan yang dinamis, tetapi ia malah mengendurkan penjagaannya atas gerakan menurun dalam diri dan kesadarannya. Seorang yang bertakwa hanya takut kepada Allah dengan menunjukkan keberanian menyeluruh dalam segenap tindakannya. Sekalipun demikian, ia tidak bersikap merusak atau menimbulkan keonaran. Segala sesuatu mempunyai batasan dan sopan-santun (adab)-nya.
أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
19. Dan tidakkah mereka memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) sejak awal dan kemudian mengulanginya. Sesungguhnya, yang demikian mudah saja bagi Allah.
Ciptaan mengikuti siklus awal, dewasa, akhir, dan kemudian penciptaan-kembali. Penciptaan-kembali adalah refleksi penciptaan dalam zona abadi. Percikan kecil makhluk adalah sebuah isyarat dari keadaan membeku dalam kehidupan akhirat di mana waktu menjadi tiada.
Manusia mencintai sesuatu "yang melampaui waktu." Ia tidak bisa bertindak tanpa tidur, yang merupakan saat terdekat di mana ia bisa merasakan keabadian dalam hidupnya. Sebagian orang pernah mengalami kecelakaan fatal dan nyaris mendekati kematian. Dan juga, dalam keadaan zikir (mengingat Allah), dalam apa yang disebut kaum sufi sebagai fana' (peleburan-diri), terjadi juga kematian makna. Kehidupan adalah siklus penciptaan dan penciptaan-kembali. Ketika ciptaan ini datang dan pergi, maka ciptaan lain akan muncul yang dimulai dengan kebangkitan (ba'ts). Ketika manusia dibangkitkan, akan muncul pula bentuk kebangkitan dalam sebuah bentuk energi lebih mumi tanpa materi fisik yang termasuk dalam noktah kecil bemama bumi.
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُيُنشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
20. Katakanlah, "Berjalanlah di muka bumi." Maka, perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari awal, dan kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Note: "Smoga Slalu ada jalan yang baik yang di Tunjukan oleh Allah SWT buat kita semua" Amiiiin Yaa.. Robbalaalaamiiin....
Komentar
Posting Komentar